Debussy & Gamelan: Diskursus atas musik Barat/Timur
http://filsuf.blogspot.com
Klik Di Sini untuk versi PDF
Tahun 1889 di Paris Claude Debussy kebetulan menghadiri pagelaran konser gamelan Jawa/Bali yang langsung membuka mata telinga serta keterarahan artistiknya secara pasti yang kemudian melahirkan impresionisme di dunia musik konser, terutama di Perancis. Terhadap gamelan Jawa/Bali sendiri Debussy berpendapat,
"Javanese music is based on a type of counterpoint by comparison with which that of Palestrina is child's play. And if one listens, without European prejudice, to the charm of their percussion, one must confess that ours is only a country fair racket."
Pemusik Indonesia yang serius biasanya dengan bangga menyodorkan fakta ini, yaitu pengaruh gamelan Jawa/Bali terhadap perkembangan musik konser Barat lewat Debussy. Dalam kenyataannya, Debussy sendiri memang mempengaruhi Stravinsky dan membuka jalan untuk Schoenberg serta komponis atonal lainnya. Gamelan Jawa/Bali sendiri secara musikal adalah musik yang paling murni dari pengaruh luar, baik struktur instrumennya maupun ekspresi artistik semuanya murni lahir dari Jawa/Bali sendiri.
Tanpa perlu didebat lagi, musik adalah bentuk seni yang paling populer di dunia. Hanya dalam seni musik ada fenomena seperti 'Top 40' yang secara periodik diolah. Di dunia ini pun ada banyak orang yang tidak mengerti, tidak mengenal dan tidak pernah membaca sastra; ada banyak juga yang tidak pernah masuk ke musium untuk menikmati karya lukis; banyak sekali yang rumahnya kosong melompong dari hiasan artistik secara seni. Tapi, praktis semua orang di dunia ini gila musik, mendengar musik dan di rumahnya memiliki perangkat buat memainkan musik. Dengan status paling populer ini maka seperti biasa, musik pun menjadi bentuk seni yang paling sedikit dimengerti. Kebanyakan orang merasa musik itu cukup didengar saja dengan kuping, dan tidak perlu dipahami secara intelektual. Atau, kalau pun mau dipahami, maka konteksnya dikaitkan dengan isi lirik vokalnya, bukannya pemahaman atas ekspresi intelektualitas di baliknya. Tapi perlu ditegaskan sekarang bahwa musik tidaklah berbeda dengan bentuk ekspresi kultural lainnya. Musik, sebagaimana filsafat, seni rupa, seni lukis, juga sangat terpengaruh oleh lingkungan kanan kirinya. Potongan pengaruh lingkungan itulah yang kemudian secara tersurat diungkapkan melalui filsafat, seni lukis, seni rupa, dan juga musik. Dengan demikian, intelektualitas atas karya musik pun tidak bisa dilepaskan atas pemahaman si komponis atas dunia di sekitarnya.
Gara-gara hanya cenderung dinikmati tanpa dipahami, maka diskursus atas musik dalam kedudukannya sebagai ekspresi intelektual pun langsung menjadi subyek yang sulit dan kompleks. Karena itulah essai dan diskursus ini pun perlu membatasi diri secara spesifik. Yaitu, kenapa Debussy bisa terpengaruh oleh konser gamelan di Paris waktu itu? Dari sisi Debussy atau tradisi musik Barat waktu itu, apakah latar belakangnya sehingga Debussy pun terkejut waktu mendengar struktur bunyi dan komposisi gamelan? Dan dari sisi intelektualitas-musikal gamelan itu sendiri, apakah yang sebetulnya ditawarkan olehnya ke Debussy?
Saya sendiri secara pribadi berharap bahwa jawaban atas pertanyaan itu bisa secara langsung meningkatkan apresiasi musikalitas Anda terhadap gamelan itu sendiri. Dan secara lebih luas lagi, membuka pemahaman Anda atas perbedaan kultural Barat-Timur melalui ekspresi musikalitasnya.
Pertama-tama lebih baik mulai dari sesuatu yang visual. Nah, perhatikan lukisan dalam gaya tradisional Bali di bawah ini:
dan bandingkan dengan standar lukisan Barat seperti 'The Last Supper'-nya Leonardo Da Vinci ini:
Gambar bisa dilihat dalam versi PDF
Sekarang saya ingin Anda berhenti membaca sejenak dan menyimak kedua lukisan itu baik-baik sebelum terus membaca. Kemudian coba jawab pertanyaan ini: dari sisi serta perspektif atas ekspresi artistik, apakah perbedaan(-perbedaan) utama yang menyolok dari kedua lukisan itu? Cobalah menjawabnya sendiri sebelum Anda meneruskan membaca.
Saya yakin Anda tentu sudah menemukan beberapa perbedaan penting dalam tehnik representasi yang digunakan. Anda mungkin sudah melihat bahwa lukisan tradisional Bali itu cenderung men-dua-dimensi, sementara Da Vinci men-tiga-dimensi. Juga keberadaan Yesus sebagai titik sentral dalam lukisannya Da Vinci, sementara lukisan Bali itu sendiri tidak memiliki serta tidak mengartikulasikan titik sentral yang tertentu, melainkan hanya membagi ruang di dalam kanvas secara setara. Lihat lagi, maka Anda bisa melihat bahwa lukisan Da Vinci itu sangat menomor-satukan keberadaan si subyek --dalam hal ini Yesus-- dan menggunakan sisi-sisi kanvas lainnya untuk lebih menopang serta mempertajam keberadaan si subyek; sementara lukisan Bali itu sendiri tidak memiliki satu subyek pun yang secara individual ingin diartikulasi serta diekspresikan.
Dalam satu penjelasan yang menyeluruh dan singkat, lukisan Barat itu tematis dan lukisan Bali itu non-tematis. Nah, Anda yang hobby fotografi atau menggunakan photoshop, pasti bisa langsung mengkritik lukisan Bali itu. Kenapa? Yach karena presuposisi serta filsafat di balik design komposisional fotografi maupun photoshop dari sononya sudah Barat-sentris. Jadi tidak heran kalau tema pun dinomor-satukan dan sedapat mungkin harus ditopang oleh elemen-elemen lainnya di dalam kanvas. Silakan Anda melihat situs-situs lukisan Barat serta Timur di internet dan gunakan perspektif tematis serta non-tematis itu untuk melihatnya.
Tematis memang merupakan ciri utama alam pikiran Barat. Non-tematis buat alam pikiran Barat hanya bisa berarti satu, yaitu chaos atau kacau. Syarat utama untuk menjadi tematis sendiri adalah eksistensi serta artikulasi atas suatu subyek yang dalam sastra biasa disebut lakon utama.
Dari lukisan sekarang ke sastra. Coba jawab, siapakah subyek atau lakon utama dalam karya-karya Timur ini: Mahabarata, Ramayana dan Samkok? Maka jawabnya, yach tidak ada! Ketiga karya sastra Timur ini memiliki terlalu banyak sub-cerita, sebagaimana lukisan Bali di atas memiliki terlalu banyak subyek tanpa ada satu pun yang menonjol. Mungkin Anda mengatakan bahwa lakon utama dalam Ramayana adalah Rama dan Sinta. Keliru! Karena dengan mensubyektifitaskan keberadaan Rama dan Sinta, Anda menomor-duakan eksistensi Hanoman, Kumbakarna dan Wibisana yang subyektivitas kelakonannya pun sangat ditegaskan serta diartikulasikan di dalam sastra Ramayana itu. Mahabarata pun sama saja. Mereka yang terbuai untuk mensubyektivitaskan kelakonan Pendawa Lima telah meremehkan subyek penting lainnya seperti Bisma sebagai inkarnasi Wisnu, atau pun dilema yang dialami oleh Karna.
Sekarang coba jawab juga, siapakah subyek atau lakon utama dalam Othello-nya Shakespeare? Nah, ini gampang sekali dijawab! Yaitu yach si Othello sendiri, sebagaimana Shakespeare pun telah mengisyaratkannya melalui judulnya! Dalam drama Othello itu ada si busuk Iago yang mulut serta lidahnya bercabang karena hatinya iri melihat kesuksesan si Moor berkulit hitam Othello yang sukses di militer Inggris. Lantas ada si perawan ting-ting Desdemona yang sangat mencintai si Othello tapi akhirnya mati gara-gara Othello berhasil disesatkan oleh lidah ularnya Iago. Lihat lagi, siapakah subyek atau lakon utama dalam 1984-nya Orwell? Yach si Winston. Siapakah subyek atau lakon utama dalam L'etranger-nya Camus? Yach si Meursault. Siapakah subyek atau lakon utama dalam Oedipus Rex-nya Homer? Yach si Oedipus sendiri. Sebagaimana kelihatan dalam lukisan Da Vinci di atas, eksistensi semua sub-lakon atau sub-tema dalam sastra Barat selalu memiliki keterkaitan yang kuat serta menopang eksistensi si lakon utama.
Tematis. Subyek-sentris. Tema-sentris. Sekali lagi, ini semuanya adalah ciri-ciri intelektualitas kebudayaan Barat. Teologi agama Kristen sebagai agama Barat pun persis sama juga presuposisinya. Kristen-kristen itu gemar membayangkan si Allah Bapak lagi mendalangi semua kejadian di dunia ini melalui doktrin yang namanya predestinasi, dan lakon utamanya sendiri dalam sejarah manusia versi Kristen-Barat ini adalah si Yesus sendiri. Yesus adalah subyek utama dalam pikiran teologis-historis para bule ini. Yesus menciptakan dunia (dalam eksistensinya sebagai logos-nya si Allah Bapa), menyelamatkan dunia dan kelak menghabisi musuh-musuhnya di hari terakhir sejarah manusia, di hari kiamat. Plot, struktur skenario, jalan pikiran teologis-historisnya Kristen-Barat ini betul-betul mirip pleq dengan struktur intelektualitas Barat sendiri. Wong memang Kristen adalah produk kulturalnya Yunani yang adalah Barat! Tapi coba lihat agama Buddha, siapakah subyek serta tema sentralnya? Yach praktis tidak ada! Karena kalau semua orang bisa serta berpotensi mencapai Boddhisatva -- alias bisa menjadi lakon juga, yach itu berarti tidak ada lakon sama sekali! Tapi coba, mana ada orang yang bisa jadi Yesusi dalam alam pikiran subyek-sentrisnya Kristen-Barat? Jelas tidak ada! Individualitas subyek itu sedemikian kuatnya sehingga posisi non-subyek pun tak dapat menggantikannya.
Tematis. Subyek-sentris. Tema-sentris. Gunakan ini untuk melihat alam filsafat Barat Timur sekarang. Dan coba jawab, apakah temanya Taoisme? Siapakah lakon di dalam Taoisme? Orang Barat sampai hari ini pun masih mencari-cari jawabannya di dalam Tao Te Ching seperti orang buta mencari jarum di padang pasir. Mereka bilang Tao adalah lakon serta subyek utama dalam filsafat Laozi. Tapi kasihannya, Laozi sendiri bilang bahwa Tao itu cuman nama-namaan untuk merujuk ke si subyek yang tidak bisa dirujuk itu. Subyek itu eksis, tapi eksistensinya hanya bisa terlihat serta terekspresikan melalui si non-subyek. Karena itulah paling tidak Laozi bisa merujuk ke orang-yang-bertao. Bandingkan pikiran ini dengan pikiran Kristen yang Yesus-sentris alias tema-sentris itu; maka situasinya pun terbalik menjadi eksistensi si subyek itu telah hadir dalam diri Yesus, dan posisi si non-subyek pun hanyalah di periferi saja. Surga nunut neraka katut. Coba lihat juga filsafat Yunani Kuno sebagai kontemporeritasnya Laozi, dan kemudian tanya siapakah tema serta subyek utamanya? Simple, yaitu ada. Socrates, Plato & Aristoteles ini pun kemudian membedah ada tadi dari sisi metafisika, ontologi, epistemologi; bahkan mereka pun juga gemar mempelajari retorika -- alias cara berbicara dan diskursus tentang ada itu sendiri.
Tematis. Subyek. Sentris. Non.
Secara sengaja saya menggunakan keempat kata itu agar Anda memahami kontras alam pikiran serta budaya Barat-Timur secara menyeluruh. Yaitu, alam pikiran serta budaya Barat bersifat tematik, subyektif, tema-sentris dan subyek-sentris. Sementara Timur sendiri secara antagonistik bersifat non-tematik, non-subyektif, non-tema-sentris dan non-subyek-sentris.
Kenapa koq yang Timur itu semuanya diawali dengan non yang negatif dan menegasi si Barat? Nah, ini perlu dijawab.
Karena, essai ini mau melihatnya dari sisi Barat, sisi Debussy dan sisi tradisi musik Barat. Sehingga, artikulasi atas sifat Timur yang non-Barat pun harus diartikulasikan. Bukan karena isi pikiran Timur tidak bisa diekspresikan secara positif. Juga bukan karena Timur secara sengaja diantagoniskan dengan Barat. Namun, non itu hanya digunakan sebagai kontras. Barat itu hitam, Timur itu non-hitam -- karena di sini kita ingin memahami Timur dari perspektif si Debussy yang Barat. Dan pada akhirnya, kontras itulah yang memukau Debussy. Kontras, berarti secara setara berbeda; bukannya secara tidak setara hanya mau membeda!
Sampai di sini kita telah melihat keberadaan serta sifat alam pikiran serta budaya Barat yang sangat dikuasai oleh ideologi tema-sentris. Ideologi tema-sentris inilah yang kemudian menyebar terekspresikan melalui lukisan, sastra, filsafat, agama, teater, drama, arsitektur dan segala sesuatu yang pokoknya Barat.
Nah, sekarang kita kembali ke subyek utama essai ini, yaitu musik. Pertanyaan kuncinya ialah: apakah ideologi Barat yang tema-sentris ini pun terekspresikan dalam musik Barat?
Iya! Musik Barat pun itu tema-sentris dan subyek-sentris. Kesejarahan musik konser Barat sendiri secara intelektual dapat dilihat dari sudut sebagai pendekatan serta perbedaan persepsi atas penanganan serta pemahaman dalam mengekspresikan tema.
Dengan demikian, coba apa persamaan serta perbedaan Johann Sebastian Bach dedengkotnya komponis Baroque dengan Mozart sebagai komponis di jaman klasik? Nah, persamaannya ialah mereka sama-sama tema-sentris; perbedaannya sendiri ialah cara serta tehnik mereka dalam mengeksposisikan tema itu sendiri.
Dunia musik konser sendiri juga mengenal format, seperti passacaglia, fugue, sonata form, rondo, menuette-trio-menuette, theme & variations, dst. Tanya lagi, apa persamaan serta perbedaan semua format-format musik ini? Sekali lagi, persamaan semua format itu adalah tema-sentris. Perbedaannya, format-format itu secara eksplisit menuntut penanganan atas tema itu sendiri secara berbeda-beda. Fugue misalnya, harus selalu dimulai oleh eksposisi tema secara satu-suara oleh salah satu suara (soprano, alto, tenor, bass), dan kemudian tema yang sama pun harus digemakan oleh suara-suara lainnya. Rondo sendiri mengambil format ABACADA di mana A adalah tema utamanya, sedangkan BCD merupakan varian-varian yang harus diarahkan ke A lagi sebagai tema utamanya. Theme & variations sendiri sudah jelas sekali tema-sentrisnya. Awalnya selalu dimulai oleh tema, kemudian variations-nya menvariasi chord yang digunakan oleh tema tadi.
Nah, tema dalam musik sendiri terbangun dari satuan unit yang biasanya disebut frase. Ambil contoh sederhana. Coba nyanyikan lagu 'Happy Birthday', maka baris 'happy birthday to you' yang pertama itu adalah satu frase. Sementara baris 'happy birthday to you' keduanya adalah frase jawaban terhadap frase yang pertama. Lantas frase ketiganya sendiri merupakan gabungan dari dua unit frase identik yang diulang dua kali 'happy birthday, happy birthday' . Frase ketiga ini juga bisa disebut sebagai cadence, yang berfungsi untuk menjembatani antara frase-frase sebelumnya dengan frase penutupnya. Struktur melodi di dalam frase-frase di lagu 'Happy Birthday' ini biasanya disebut conjunct, karena jarak dari satu not ke not selanjutnya itu kecil-kecil. Sehingga kalau didiagramkan secara visual, jadinya pun akan kelihatan seperti riak-riak kecil yang berdempetan dengan garis lurus ditengahnya sebagai pusat melodinya. Lawannya conjunct sendiri otomatis disebut disjunct. Contohnya kayak frase pertama di lagu 'Love Story' dari filmnya Ryan O'Neal itu. Nyanyikan liriknya 'where do I begin', maka Anda bisa merasa sendiri betapa jauhnya jarak not dari where turun ke do I dan terus naik lagi ke begin. Frase ini kalau didiagramkan akan kelihatan seperti huruf V. Struktur anatomis dari frase-frase di lagu Happy Birthday itu sendiri disebut puitis atau poetic. Kenapa? Karena sistem metrisnya memang setara semua seperti suatu baris-baris puisi. Senandungkan melodinya lagi dan perhatikan anatomi frasenya yang puitis itu; maka Anda bisa langsung melihat struktur 6-6-4-4-6. Nah, lawannya jenis struktur anatomi dari frase yang puitis yach otomatis adalah prosaik seperti juga essai ini pun adalah prosa. Artinya, struktur serta anatomi ritmik frasenya atau kalimat-kalimatnya itu tidak beraturan seperti puisi. Contoh musiknya buat ini adalah Yesterday atau pun Hey Jude-nya The Beatles. Senandungkan melodinya, maka Anda bisa melihat frase yang 3-9 di awalnya Yesterday itu. 3-nya itu adalah yes-ter-day; dan 9-nya yang langsung mengikuti ke-3 note tadi adalah 'all my trou-ble seemed so far a-way'. Bisakah Anda mengamati sisi prosaiknya itu?
Sampai di sini secara singkat kita sudah melihat beberapa karakteristik umum atas frase-frase tematik di dalam tradisi musik barat. Yaitu: melodinya conjuct atau disjunct, struktur anatominya sendiri poetic atau prosaic. Perubahan dari frase satu ke frase lainya sendiri biasa ditandai oleh perubahan chord atau jatuhnya ketukan ritme. Satu hal lagi yang eksis di dalam contoh-contoh itu, tapi karena saking subtilnya dan letaknya yang ada dibelakang, maka orang awam tidak akan pernah bisa menyadarinya. Nah, hal yang subtil itu namanya adalah karakteristik tonal-musik yang tonal-sentris. Tonal di sini merujuk ke tangga nada yang digunakan. Secara harmoni, musik Barat yang bertendensi tonal itu bisa dipersepsi sebagai perjalanan dari tonic kembali ke dirinya lagi. Kalau Anda tahu teori, ini kelihatan dari siklus circle of fifth yang secara siklis berputar kembali ke dirinya.
Tapi kalau Anda asing dengan teori musik, namun paling tidak bisa baca not balok, atau not angka atau pun main satu instrumen misalnya; maka perhatikan ini, tidakkah Anda sadar bahwa setiap lagu yang dimainkan di tangga nada C misalnya, maka lagu itu awal dan akhirnya pun juga selalu di chord C. Itu kalau tonicnya C. Kalau tonicnya Am, maka awalnya yach di Am dan jreng terakhirnya pun juga di Am. Semua contoh lagu di atas itu pun juga seperti itu! Yaitu: tonal-sentris.
Tonal-sentris ini juga bisa dilihat dari relasi intensional diantara frase-frase tematik yang satu dan yang lainnya. Tidak percaya? Tidak bisa melihat relasi intensional itu? Okey, senandungkan lagi frase pertama Happy Birthday itu. 'Hap-py birth-day to you'. Untuk frase keduanya, gantilah nada-nadanya! Jangan gunakan frase kedua sebagaimana yang kita tahu, tapi senandungkan sendiri entah melodi apa saja seperti yang Anda maui sesuka Anda. Carilah kelanjutan lain yang melodinya beda dengan frase yang kita kenal, kalau perlu chordnya pun betul-betul beda dengan yang lagu aslinya.
Apa yang Anda lakukan ini pada dasarnya adalah mengalterasi relasi dari frase pertama dengan frase kedua di lagu Happy Birthday itu. Dan mendadak saja lagu yang kelihatannya sedemikian sederhana dan gampangnya pun menjadi susah dan kompleksnya bukan main! Kenapa? Karena waktu Anda mau mengalterasi frase kedua itu, Anda telah mencoba-coba untuk merubah intensionalitas frase tematik yang pertama! Yang mendadak Anda sadari adalah tirani tata-bahasa (atau harmoni) musik di sana. Sebagaimana juga gara-gara keberadaan tirani tata-bahasa Indonesia yang eksis dibalik setiap frase bahasawi, maka saya pun tidak bisa menerjang tirani tata bahasa itu begitu saja dan bilang "cinta men-i aku mu' tapi harus 'aku mencintaimu'. Musik pun sama saja! Relasi dari frase tematik pertama dari 'Happy Birthday' itu dengan relasi keduanya, meski kelihatan sealamiah ungkapan 'aku mencintaimu' sebetulnya telah terintervensi, terdeterminasi dan terkekang oleh tata bahasa! Dalam relasi alamiah tata bahasa Indonesia, maka kata aku pun menjadi subyek yang harus selalu diikuti oleh kata kerja dan jika itu memang kata kerja transitif, maka obyeknya pun harus diletakan setelah kata kerja tadi. Sekali lagi, artinya, intensionalitas dari setiap elemen bahasa itu pun telah ditetapkan sedemikian rupa untuk bisa menjadi berarti. Sekarang senandungkan lagi frase-frase dari lagu pendek Happy Birthday itu, dan konsentrasikan perhatian secara penuh Anda terhadap kealamiahan relasi-relasi yang ada dari satu frase ke frase selanjutnya. Coba untuk mengalternasi relasi frase-frase itu. Maka pada akhirnya, yang Anda sadari adalah relasi diantara frase-frase tematik itu yang ternyata intensional; sebagaimana subyek harus diikuti oleh kata kerja dalam tata bahasa biasa.
Dan intensionalitas harmoni itu adalah problem! Karena itu berarti ada tirani yang harus didobrak!
Nah, selamat! Sekali Anda mengerti ini maka Anda sudah mengerti tantangan apa yang dihadapi oleh setiap komponis yang ingin secara kreatif tampil mengejutkan. Sampai di sini, mudah-mudahan Anda sudah mengerti maksud saya di atas waktu saya di atas itu mengatakan "kesejarahan musik konser Barat sendiri secara intelektual dapat dilihat dari sudut sebagai pendekatan serta perbedaan persepsi atas penanganan serta pemahaman dalam mengekspresikan tema.
Orang modern di jaman ini otomatis cenderung memiliki intelektualitas yang bersifat Barat. Alias mengagung-agungkan tema-sentrisme. Karena itulah, secara artistik pun mereka cenderung melihat non-tema-sentrisme sebagai kacau yang perlu diberantas. Padahal, tema-sentrisme pun punya segudang problem yang secarang singkat bisa dijelaskan dalam satu kata, yaitu picik. Di sini kita berbicara seni, maka sekarang lihat lagi piciknya tema-sentrisme itu secara visual dulu. Sekarang bandingkan seperempat potongan kanan atas lukisan tradisional Bali yang ini:

dengan seperempat potongan kanan atasnya Da Vinci ini:

Ajaib khan! Lukisan Bali yang non-tematis itu bisa tetap penuh dan hadir sebagai lukisan yang penuh, sementara lukisan tematik dari Da Vinci begitu dipotong malah langsung kedodoran kelihatan jelas ada bagian tertentu yang telah hilang. Nah, fenomena ini pun juga nyata di semua bentuk ekspresi-ekspresi seni Barat/Timur. Anda yang hobbi nonton wayang pasti tahu tentang Arjuna Wiwaha yang sering dipagelarkan secara tunggal meskipun cerita itu sendiri sebetulnya adalah bagian dari cerita besar Mahabarata. Sama juga dengan sastra Cina model Samkok atau Sun Go Kong (Perjalanan ke Barat) yang bisa dipotong-potong, diceritakan secara parsial, tapi anehnya yang parsial cuman sepotong itu bisa tetap hadir secara penuh; persis seperti potongan lukisan tradisional Bali di atas.
Sekarang coba Anda lakukan dan coba sendiri hal ini di musik! Nah, nyanyikan Happy Birthday lagi tapi jangan mulai dari lirik yang pertama, tapi mulailah langsung dari yang kedua. Sehingga syairnya pun menjadi 'Hap-py Birth-day to you; hap-py birth-day hap-py birth-day; Hap-py Birth-day to you'. Nah, terasa tidak bahwa ada kejanggalan komposisional & intelektual begitu Anda memotongnya begitu? Persis sama seperti lukisannya si Da Vinci itu langsung kelihatan ketidak-lengkapannya begitu kita potong. So, Anda tahu lagu Suwe ora jamu yang melodinya menggunakan pentatonik Jawa itu? Syairnya begini: Suwe ora jamu, jamu pegel linu; suwe ora ketemu~dst. Nah, sama seperti yang kita lakukan terhadap lagu Happy Birthday sebelumnya, buang lirik pertamanya dan langsung mulai bersenandung dari jamu pegel linu. Di jamin Anda tidak akan mendengar seperti ada sesuatu yang janggal di potongan itu!
Coba berfilsafat sedikit. Eksposisi ini sebetulnya merupakan implementasi langsung dari filsafat Jawa melalui ekspresi-ekspresi artistik seni musik, sastra & lukis. Apa yang Anda lihat itu sebetulnya identik dengan apa yang dimaksud oleh istilah model manunggaling kawulo gusti atau pun menyatunya mikro & makro kosmos di dunia. Bayangkan kanvas itu sebagai dunia makro-kosmos, lalu potonglah kanvas itu secara imajiner menjadi misalnya 1/2 1/3 1/4 atau 1/5, maka potongan itupun langsung terlihat menjadi si mikro-kosmos di dunia kanvas tadi lengkap dengan individualitasnya sendiri yang terpisah tapi sekaligus menyatu dengan si makro-kosmosnya sendiri. Kaitkan ini dengan tema sebagai dimengerti di photoshop, fotografi atau pun dunia serta teori lukis Barat; maka sesungguhnya yang terlihat itu bukanlah kacau atau chaos seperti kesan pertama waktu mata Barat melihatnya, melainkan gejala multi-tematik.
Dan musik gamelan pun sama saja, yaitu secara serentak tema-tema itu hadir bersama. Tidak heran Debussy pun bilang ke temannya:
To Pierre Louis, 22 January 1895
But old fellow ! Remember the Javanese music which contained all shades of sound, even the ones that are beyond naming, compared to which tonic and dominant where nothing but vain fantoms to frighten naughty little children. [http://gamelan.free.fr/Debussy.htm]
Lihat lukisan Barat yang tipikal, maka mata Anda pun akan langsung terpaku ke tema tunggal yang ada di sana. Dengarkan musik Barat yang tipikal, maka kapan saja telinga Anda akan langsung bisa mendengar dan mengidentifikasi distingsi satu tema tunggal yang menonjol. Baca sastra Barat yang tipikal, maka Anda bisa melihat perkembangan seorang lakon tunggal di sana. Ini semua adalah rangkuman general dari pengalaman umum saat kita berhadapan dengan satu karya seni Barat. Dengan demikian, orang yang pengalaman artistiknya terbatas di dunia Barat pun bakal langsung menpostulasikan dan mengabsolutkan pengalamannya itu sebagai satu-satunya metode untuk setiap ekspresi artistik.
Orang itu yach seperti Debussy sendiri. Untungnya, Debussy sendiri sudah punya telinga yang terlatih waktu mendengar gamelan Jawa, dan juga, dia pun lagi mencari-cari cara serta metode baru untuk mengekspresikan artistiknya agar bisa betul-betul menjadi Perancis. Tidak seperti si Jerman Beethoven Brahms Mozart, tidak juga seperti idiom-idiom musikal opera Itali. Tapi, sesuatu yang betul-betul Perancis. Di atas itu Debussy mengatakan bahwa (chord-chord) tonik & dominant itu cuman buat nakut-nakutin anak kecil saja. Nah, Anda yang bisa main instrumen bisa melihat sendiri kekangan harmoni yang baku itu. Jadi, lagu yang Anda mainin itu chordnya selalu saja muter-muter di
-chord C sebagai toniknya,
-terus ke chord G sebagai dominannya C,
-terus ke D sebagai dominannya G,
dan seterusnya menjadi circle of fifth yang langsung tampak kayak mainan anak-anak begitu Debussy mendengar musik Jawa. Hal kedua yang tidak kalah pentingnya, tentu saja, adalah keterbukaan intelektualitasnya Debussy sendiri terhadap hal-hal baru! Tidak semua orang intelek atau terpelajar itu pikirannya terbuka terhadap ide-ide baru! Misalnya, Rimsky-Korsakov itu gurunya Stravinsky dan keduanya sama-sama komponis Rusia yang penting. Stravinsky yang lebih muda itu kelak sangat terpengaruh oleh ide-ide musikal Debussy, tapi Rimsky-Korsakov sendiri menasehati Stravinsky: "Jangan dekat-dekat dengan musiknya Debussy, nanti bisa-bisa kamu tergoda untuk menyukainya!" Akhirnya Stravinsky sendiri bukannya cuman menyukainya saja, namun bahkan juga terpengaruh!
Sekarang kita sudah waktunya mendengar musik. Ngomong musik tanpa musik yach aneh! Tapi seperti Anda tahu, saya di sini mengalami keterbatasan media karena tidak mungkin menyisipkan file-file musik. Untung ada Amazon, dan meski sangat tidak komplit tapi bisa memberikan secuil gambaran umum. yach Anda bisa beli cari atau download sendiri. Atau, bisa juga cari midinya di situs http://www.classicalarchives.com yang isinya hampir komplit! Di sini saya akan memberikan (1) daftar lagunya dan (2) apa yang harus Anda dengarkan secara intelek di lagu itu!
(1) Beethoven, Symphony no5 in Cm, movement pertama 'Allegro con Brio'
Klik klip Amazon dengan Windows Media, tapi kalau linknya putus lihat situsnya, atau bisa juga dengar midinya setelah mendaftar di www.classicalarchives.com. Simfoni Beethoven nomer lima ini terkenal sekali karena (1) hanya dengan 4 melodi di awal sekali Beethoven sudah bisa langsung mengintrodusir tema dasar buat keseluruhan movement pertama itu; (2) karena temanya cuman merupakan gabungan dan terdiri dari empat melodi, maka praktis ini adalah salah satu dari sedikit musik Barat yang temanya terpendek! Cuman dengan 4 not Beethoven sudah bisa membuat tema yang menjadi pusat utama movement pertama itu; (3) meskipun Beethoven hidup di jaman klasik, simfoni nomer lima itu sangat romantis dalam artian sangat individualistis, singkatnya yach melampaui jamannya; (4) Nah, secara intelek yang harus Anda dengarkan adalah (1) sentralitas dari tema itu sepanjang musiknya, sebagaimana Yesus menjadi sentralitas tematik utama di lukisannya Da Vinci di atas; (2) pusatkan perhatian Anda dalam caranya Beethoven mengolah tema itu secara prosaik; seperti waktu kita di SD dikasih tema model 'hari liburku' dan disuruh mengarang, maka tentu saja panjang pendeknya dalam dangkalnya itu semuanya tergantung sama kreativitas si anak, iya khan. Nah, di sini pun sama saja. (3) sama seperti aktivitas anak SD, coba ambil temanya Beethoven yang cuman terdiri dari 4 melodi itu dan senandungkan musik karangan Anda sendiri berdasarkan tema itu. Saya rasa pengalaman Anda berhadapan dengan sulitnya mengolah tema itu, bakal berbanding lurus dengan apresiasi Anda terhadap karyanya itu sendiri.
(2) Mozart, Theme & Variation on "Ah, Vous dirais-je, Maman"
Temanya lagu ini sangat populer yaitu 'Twinkle-twinkle Little Star' kalau di Inggris atau 'ABCDE' kalau di Indonesia. Dengar midinya atau lihat situsnya di Amazon dan cari dengan kata maman.
Format 'theme & variations' ini persis dengan formatnya jazz. Dengarkan jazz mana saja, maka strukturnya selalu: (A) melodi utamanya atau themenya dimainkan, (B) pemain A mulai improvisasi atau kalau solo yach langsung improvisasi sendiri, (C) pemain B improvisasi selanjutnya, dst sampai (Z) melodi atau theme utamanya itu dimainkan lagi sebagai penutupan. Struktur ini mirip dengan Chaconne (tarian Spanyol kuno), kayak karyanya Bach: Chaconne inDm buat biola solo.
Sentralitas tema di karya ini yach jelas adalah melodi serta chord yang dipakai di lagu 'Twinkle-twinkle Little Star' itu. Karena itu, waktu Anda mendengarkan variasi-variasi dari tema itu, senandungkan lagu ABCDE itu. Dijamin Anda bisa melihat relasi dari variasinya dengan tema dasarnya tadi.
(3) Bach: pengembangan tema dengan counterpoint ala Fugue, invention, sinfonia, dst.
Pertama, fugue itu bacanya fyuk. Fugue adalah format komposisinal yang sangat rumit, sangat sulit dibuat, sangat matematis dan sangat intelek. Saking sulitnya tehnik komposisi fugue, maka rata-rata fugue menjadi kering dari perasaan. Dan orang pun membuat fugue murni cuman buat latihan komposisi sebagaimana orang menggambar anatomi bukan untuk dipamerkan, tapi cuman buat latihan menggambar saja. Beethoven misalnya, setengah mati menyelesaikan fuguenya. Karena itulah, hebat serta jeniusnya Bach adalah karena dia bisa tetap ekspresif secara musikal meskipun komposisinya sendiri dikekang oleh aturan-aturan kakunya fugue. Saya yakin Anda yang betul-betul buta tentang makna format komposisi di dalam musik klasik tentu bakal bertanya-tanya sekarang, "Kenapa harus mengikuti aturannya? Labrak saja kenapa sih?" Nah, saya kasih contoh. Saya memegang buku tebal dan Anda pun bisa melihat judulnya 'Da Vinci Code'; terus saya bilang kepada Anda, saya suka sekali puisi-puisi di cerpen 'Da Vinci Code' ini. Sebagai orang yang waras yach sudah tentu Anda pun bakal langsung kaget dan bilang "Eh..., tolol banget sih! Kamu itu khan sedang membaca novel bukannya cerpen! Lagian, kalaupun itu memang cerpen, maka yach sudah pasti bentuknya itu prosaik bukannya puisi!" Iya khan? Nah, kenapa Anda bisa bilang begitu? Yach karena Anda sudah sadar tentang kategori-kategori cerpen, novel, prosa itu seperti apa. Anda sadar formatnya cerpen itu tidak bisa 1000 halaman, sedangkan formatnya novel tidak bisa cuman 10 baris. Anda tahu bahwa cerpen dan novel harus sama-sama prosaik, sedangkan puisi punya tempat serta sendiri yang sangat berbeda dari cerpen atau pun novel. So, kalau Anda mengerti ini, maka di tradisi musik pun yach sama saja; fugue, symphony, sonata, cantata, oratorio, bourree, dst, ini semuanya adalah format dan bukannya judul, sehingga karena mereka adalah format, yach otomatis mereka pun punya aturan-aturan sendiri yang tidak bisa seenaknya dilanggar. Kalau pun sengaja mau dilanggar, yach sudah pasti diketawain orang. Sebagaimana sudah nyata-nyata 'Da Vinci Code' itu novel koq mau dibilang puisi atau pun cerpen!. Nah, aturan fugue adalah (1) distribusi tema melodi ke semua suara, (2) harus selalu diawali oleh eksposisi tematik secara solo atau satu suara saja, (3) dan barusan kemudian diikuti oleh suara-suara selanjutnya. Dengarkan sekarang Invention pertamanya Bach yang hanya menggunakan dua suara saja. Ini yang harus Anda dengar secara aktif: (1) ikuti eksposisi tema awalnya dari pertama kali sekali oleh suara pertama, (2) perhatikan bagaimana tema awal itu dimainkan oleh suara keduanya. Satu hal penting tentang mendengar counterpoint ialah Anda harus merubah kebiasaan Anda dalam mendengar musik. Mungkin Anda tidak sadar akan hal ini, tapi silakan tes dan buktikan sendiri hal ini: setiap kali Anda mendengar musik --katakan saja Yesterday-nya Beatles-- maka secara selektif telinga Anda itu hanya mendengar nada yang tertingginya saja, alias melodinya saja. Secara selektif telinga Anda akan mengabaikan bassnya, altonya dan tenornya. Ini tentu saja bisa dimaklumi, karena memang itulah ciri-ciri musik pop, termasuk semua tradisi musik Barat setelah jaman baroque, jamannya Bach. So, untuk bisa menikmati musik jaman baroque, kebiasaan ini harus dibuang dan tidak bisa dipakai lagi karena pengertian atas melodi di jaman baroque dan jaman sesudahnya memang beda. Status melodi dalam setiap karya musik di jaman pasca-baroque adalah seperti primadona utama di opera. Melodi di jaman pasca-baroque sudah pasti harus selalu diaksentuasi dan letaknya pun hampir selalu di pitch atau nada yang tertinggi; sementara fungsinya bass pun hanyalah untuk lebih menggaris-bawahi melodi di atasnya tadi. Di jaman baroque sendiri, konsep ini tidak berlaku sama sekali karena buat jaman baroque, melodi alias tema itu selalu didistribusi secara rata ke semua lapisan suara; bisa di atas (sopran), bisa di bawah (bass) dan juga bisa pas di tengah (alto/tenor). Nah, dengarkan lagi invention pertama tadi, dan dengarkan juga invention keempatnya Bach. Setelah mendengar dua suara, sekarang coba dengarkan tiga suara sekaligus melalui sinfonianya Bach! Ini bakal lebih rumit karena dari awal sekali Bach sudah menggunakan 2 tema secara serentak, yang kemudian dipilin-pilin ke atas bawah seperti kepangannya perempuan. Relasi kedua tema ini tidak bisa dilihat sebagai melodi-bass, tapi harus didengar sebagai melodi_atas-melodi_bawah karena nanti yang atas itu bakal keluar lagi di bawah sementara yang bawah keluar lagi di atas. Seperti sinfonia pertama ini, atau juga yang ketujuh.
Nah, sekarang coba dengarkan fugue yang betul-betul buat empat suara sekaligus. Dengarkan Toccata & Fugue inDm ini (fuguenya mulai dari menit ke 02:48, menit 00:00-02:47 sendiri adalah toccatanya); karya ini seharusnya dimainkan oleh organ tapi saya nggak bisa menemukan midinya, jadi terpaksa menggunakan link yang dimainkan sama piano itu. Akibatnya, pada awalnya bakal banyak bunyi yang terasa hampa karena piano tidak bisa men-sustain bunyi selama organ atau biola. Eniwe, dengarkan melodi awalnya dan kemudian secara aktif ikuti melodi awal itu digemakan di atas, di tengah dan di bawah secara periodik. Semua link itu saya ambil dari situsnya Bach yang bisa Anda download sendiri.
Secara pendek dan sederhana, semua contoh musik di atas itu tujuannya adalah untuk menunjukan dominasi doktrin utama dalam tehnik komposisi musik di Barat yang tema-sentris itu. Jaman berubah, tapi doktrin tema-sentris itu tetap tinggal. Yang berubah hanyalah persepsi dalam menangani tema itu sendiri. Ambil contoh teologi Kristen misalnya, persepsi atas Yesus bisa jadi berubah-ubah artikulasi dalam sejarah Barat, namun perubahan persepsi itu sendiri tetap saja tidak merubah Barat dari ketololan monoteisme dan dominasi filosofisnya.
Sekarang coba dengarkan mp3-nya gending Jawa/Bali atau download dan dengarkan juga gending lainnya di sini. Dengarkan baik-baik secara intelek dan aktif. Coba gunakan perspektif Barat yang cenderung mono-tematik itu untuk mencari-cari tema yang mengikat semua bunyi itu sebagai satu unit karya musik.
Nah, sekarang buat perbandingan. Maka secara umum yang kelihatan adalah:
a. Melodi di gamelan itu cenderung conjunt dan ini logis saja, karena kalau Anda lihat fisik instrumennya maka mereka itu rata-rata tidak pernah lebih dari satu oktaf. Melodi di Barat sendiri bisa conjuct atau disjunct.
b. Efek langsung dari fisik instrumen yang hanya satu-oktafan itu buat telinga dan otak kita yach otomatis jadi hipnotis serta menenangkan. Persis waktu Anda jadi mengantuk mendengar orang yang ngomongnya datar-datar saja cuman berkisar di dua-tiga melodi suara, otomatis mata Anda pun jadi sayu-sayu. Bandingkan sama mendengar orang yang ngomongnya meloncat-loncat kayak histeris, alias melodi suaranya itu disjunct, otak Anda pun nggak bakalan bisa tenang karena tegang terus.
c.